Agenda Ibadah Sunah di Bulan Ramadhan

•1 September 2008 • 1 Comment

 1. Menyegerakan berbuka puasa

2. Berdoa ketika berbuka puasa

3. Bersahur dan melewatkan waktunya

4. Memperbanyakkan sedekah dan berbuat kebajikan

5. Meninggalkan perkara keji dan mungkar

6. Memperbanyakkan membaca Al-Quran dan menuntut ilmu

7. Menghidupkan malam Ramadhan dan mendirikan solat Tarawih

8. Memperbanyakkan berdoa kepada Allah SWT

9. Meningkatkan ibadah pada 10 malam terakhir Ramadhan

10. Iktikaf di masjid

Jalan Menuju Qona’ah

•1 September 2008 • 1 Comment

 

Qana’ah (rela dan menerima pemberian Allah subhanahu wata’ala apa adanya)

adalah sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan, kecuali bagi siapa yang

diberikan taufik dan petunjuk serta dijaga oleh Allah dari keburukan jiwa,

kebakhilan dan ketamakannya. Karena manusia diciptakan dalam keadan

memiliki rasa cinta terhadap kepemilikan harta.

 

Namun meskipun demikian kita dituntut untuk memerangi hawa nafsu supaya

bisa menekan sifat tamak dan membimbingnya menuju sikap zuhud dan qana’ah.

Berikut ini beberapa kiat menuju qana’ah yang jika kita laksanakan maka

dengan izin Allah seseorang akan dapat merealisasikan nya. Di antaranya

yaitu:

 

1. Memperkuat Keimanan kepada Allah subhanahu wata’ala.

 

Juga membiasakan hati untuk menerima apa adanya dan merasa cukup terhadap

pemberian Allah subhanahu wata’ala, karena hakikat kaya itu ada di dalam

hati. Barangsiapa yang kaya hati maka dia mendapatkan nikmat kebahagiaan

dan kerelaan meskipun dia tidak mendapatkan makan di hari itu.

 

Sebaliknya siapa yang hatinya fakir maka meskipun dia memilki dunia

seisinya kecuali hanya satu dirham saja, maka dia memandang bahwa

kekayaannya masih kurang sedirham, dan dia masih terus merasa miskin

sebelum mendapatkan dirham itu.

 

2. Yakin bahwa Rizki Telah Tertulis.

 

Seorang muslim yakin bahwa rizkinya sudah tertulis sejak dirinya berada di

dalam kandungan ibunya. Sebagaimana di dalam hadits dari Ibnu Mas’ud

radhiyallahu ‘anhu, disebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi

wasallam di antaranya, “Kemudian Allah mengutus kepadanya (janin) seorang

malaikat lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka

ditulislah rizkinya, ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya.” (HR.

al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)

 

Seorang hamba hanya diperintah kan untuk berusaha dan bekerja dengan

keyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala yang memberinya rizki dan bahwa

rizkinya telah tertulis.

 

3. Memikirkan Ayat-ayat al-Qur’an yang Agung.

 

Terutama sekali ayat-ayat yang berkenaan dengan masalah rizki dan bekerja

(usaha). ‘Amir bin Abdi Qais pernah berkata, “Empat ayat di dalam

Kitabullah apabila aku membacanya di sore hari maka aku tidak peduli atas

apa yang terjadi padaku di sore itu, dan apabila aku membacanya di pagi

hari maka aku tidak peduli dengan apa aku akan berpagi-pagi, (yaitu):

 

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat,maka tidak

ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah

maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan

Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathiir:2)

 

“Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat

menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang

dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (QS.Yunus:107)

 

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang

memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat

penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”

(QS. Huud:6)

 

“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS.

ath-Thalaq:7)

 

4. Ketahui Hikmah Perbedaan Rizki

 

Di antara hikmah Allah subhanahu wata’ala menentu kan perbedaan rizki dan

tingkatan seorang hamba dengan yang lainnya adalah supaya terjadi dinamika

kehidupan manusia di muka bumi, saling tukar manfaat, tumbuh aktivitas

perekonomian, serta agar antara satu dengan yang lainnya saling memberi kan

pelayanan dan jasa.

 

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentu kan

antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah

meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar

sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat

Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. az-Zukhruf:32)

 

“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia

meninggikan sebahagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat,

untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS.Al an’am 165)

 

5. Banyak Memohon Qana’ah kepada Allah

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling qana’ah,

ridha dengan apa yang ada dan paling banyak zuhudnya. Beliau juga seorang

yang paling kuat iman dan keyakinannya, namun demikian beliau masih meminta

kepada Allah subhanahu wata’ala agar diberikan qana’ah, beliau bedoa,

 

“Ya Allah berikan aku sikap qana’ah terhadap apa yang Engkau rizkikan

kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang)

dariku dengan yang lebih baik.” (HR al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan

disetujui oleh adz-Dzahabi)

 

Dan karena saking qana’ahnya, beliau tidak meminta kepada Allah subhanahu

wata’ala kecuali sekedar cukup untuk kehidu pan saja, dan meminta

disedikitkan dalam dunia (harta) sebagaimana sabda beliau, “Ya Allah

jadikan rizki keluarga Muhammad hanyalah kebutuhan pokok saja.” (HR.

Al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi)

 

6. Menyadari bahwa Rizki Tidak Diukur dengan Kepandaian

 

Kita harus menyadari bahwa rizki seseorang itu tidak tergantung kepada

kecerdasan akal semata, kepada banyaknya aktivitas, keluasan ilmu, meskipun

dalam sebagiannya itu merupakan sebab rizki, namun bukan ukuran secara

pasti.

 

Kesadaran tentang hal ini akan menjadikan seseorang bersikap qana’ah,

terutama ketika melihat orang yang lebih bodoh, pendidikannya lebih rendah

dan tidak berpengalaman mendapatkan rizki lebih banyak daripada dirinya,

sehingga tidak memunculkan sikap dengki dan iri.

 

7. Melihat ke Bawah dalam Hal Dunia

 

Dalam urusan dunia hendaklah kita melihat kepada orang yang lebih rendah,

jangan melihat kepada yang lebih tinggi, sebagaimana sabda Nabi shallallahu

‘alaihi wasallam,

 

“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kamu dan janganlah melihat

kepada orang yang lebih tinggi darimu. Yang demikian lebih layak agar

kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR.al-Bukhari dan Muslim)

 

Jika saat ini anda sedang sakit maka yakinlah bahwa selain anda masih ada

lagi lebih parah sakitnya. Jika anda merasa fakir maka tentu di sana masih

ada orang lain yang lebih fakir lagi, dan seterusnya. Jika anda melihat ada

orang lain yang mendapatkan harta dan kedudukannya lebih dari anda, padahal

dia tidak lebih pintar dan tidak lebih berilmu dibanding anda, maka mengapa

anda tidak ingat bahwa anda telah mendapatkan sesuatu yang tidak dia

dapatkan?

 

8. Membaca Kehidupan Salaf

 

Yakni melihat bagaimana keadaan mereka dalam menyikapi dunia, bagaimana

kezuhudan mereka, qana’ah mereka terhadap yang mereka peroleh meskipun

hanya sedikit. Di antara mereka ada yang memperolah harta yang melimpah,

namun mereka justru memberikannya kepada yang lain dan yang lebih

membutuhkan.

 

9. Menyadari Beratnya Tanggung Jawab Harta

 

Bahwa harta akan mengakibatkan keburukan dan bencana bagi pemilik nya jika

dia tidak mendapatkan nya dengan cara yang baik serta tidak

membelanjakannya dalam hal yang baik pula.

 

Ketika seorang hamba ditanya tantang umur, badan, dan ilmunya maka hanya

ditanya dengan satu pertanyaan yakni untuk apa, namun tentang harta maka

dia dihisab dua kali, yakni dari mana memperoleh dan ke mana

membelanjakannya. Hal ini menunjukkan beratnya hisab orang yang diberi

amanat harta yang banyak sehingga dia harus dihisab lebih lama dibanding

orang yang lebih sedikit hartanya.

 

10. Melihat Realita bahwa Orang Fakir dan Orang Kaya Tidak Jauh Berbeda.

 

Karena seorang yang kaya tidak mungkin memanfaatkan seluruh kekayaannya

dalam satu waktu sekaligus. Kita perhatikan orang yang paling kaya di dunia

ini, dia tidak makan kecuali sebanyak yang dimakan orang fakir, bahkan

mungkin lebih banyak yang dimakan orang fakir. Tidak mungkin dia makan lima

puluh piring sekaligus, meskipun dia mampu untuk membeli dengan hartanya.

Andaikan dia memiliki seratus potong baju maka dia hanya memakai sepotong

saja, sama dengan yang dipakai orang fakir, dan harta selebihnya yang tidak

dia manfaatkan maka itu relatif (nisbi).

 

Sungguh indah apa yang diucapkan Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, “Para

pemilik harta makan dan kami juga makan, mereka minum dan kami juga minum,

mereka berpakaian kami juga berpakaian, mereka naik kendaraan dan kami pun

naik kendaraan. Mereka memiliki kelebihan harta yang mereka lihat dan

dilihat juga oleh selain mereka, lalu mereka menemui hisab atas harta itu

sedang kita terbebas darinya.”

 

Sumber: “Al-Qana’ah, mafhumuha, manafi’uha, ath-thariq ilaiha,” hal 24-30,

Ibrahim bin Muhammad al-Haqiil.